Sang Pemendam Rasa

Sang Pemendam Rasa

Di bukit ini, aku merengkuh indahnya

Tenang, begitu dalam hati sebenarnya aku begitu kalut

Meraih kabutnya, merayapi tanahnya yang wangi

Melepas impian yang selalu tertahan dan tergenang dengan air mata dalam doa

 

Di seberang sana

Aku menatapmu tanpa enggan

Melihat sejenak ke langit biru tanpa cela, lukisanmu

Lalu kembali menatap siluetmu disana, sempurna

 

Kamu, yang begitu membuatku terdiam

Aku, pemendam rasa paling hebat yang pernah kamu kenal

Bertandang sesekali, tapi tetap merasakan indahmu

Tanpa harus merangkulmu

Merangkul dalam dekap udara dinginmu

Bercumbu dengan tanahmu

Dan kembali, merasakan sejuknya batin yang mengeja kesempurnaanmu

 

Aku, pemendam rasa paling hebat yang kamu tahu

Yang akan kembali dan menunggu di seberang sini

Tanpa mengharap kamu yang akan maju

Mengulur jarak menjadi dekat

Mengeja Rindu

Mengeja Rindu
Sungguh, karena saya belum tahu apa rasanya rindu itu belakangan ini

Ajarkan aku apa rasanya merindu itu, karena ketika aku mencoba merasakannya, hanya ada ruang kosong yang terlampau dalam di relung

Sehingga yang aku rasa hanya oksigen yang masuk lalu berubah cepat menjadi karbon dioksida

Udara-udara yang sebenarnya lebih terasa daripada rasa itu sendiri

Ajarkan aku apa rasanya merindu itu,  ketika yang dipenuhi ternyata hanya ada luka yang menoreh dalam

Sehingga setiap tarikan nafas hanya ada rasa sakit

 

Apakah rindu itu mempunyai jam tangan? Yang dapat kulihat waktunya?

Atau seperti lambung? Yang berteriak ketika rasa-kebutuhan itu mulai muncul

Sepertinya rindu itu seperti alkohol, yang bisa membersihkan semua yang mengotori hati dan membuatnya bersih, steril

Mungkin permen, cokelat, yang setiap kunyahannya merupakan tambahan adiksi untuk melahapnya lagi

Analogikan rasa rindu itu seperti apa dan harus bagaimana

Ketika hati terlalu dingin tanpa nelangsa meraba harap rasa itu

 

Ajarkan aku apa rasanya merindu itu, karena ketika aku mencoba merasakannya dan membayangkan sosoknya

Yang aku lihat ia merindukan seseorang yang bukan aku

 

And my name is Mulan

And my name is Mulan
The Emperor of China: The flower that blooms in adversity is the most rare 
and beautiful of all. 
Shang: Sir? 
The Emperor of China: You don't meet a girl like that every dynasty.

“Jadi, kapan kau turun perang lagi?”, Ling menyikut Mulan

“Hei, aku perempuan! Ingatlah itu!!”, Mulan menonjok pelan lengan sahabatnya. Ling dan Yao tertawa terbahak-bahak sambil berangkulan.

Cri-Kee menghampiri Mulan dan meloncat ke pundak Mulan. “Hai kau, si jangkrik pembawa keberuntungan, apa kabar?”, Cri-kee melompat kesenangan, lalu melompat ke kepala Ling dan Yao bergantian.

“Dia ceria sekali ya? Menurut aku kehadiran dia memang membawa keberuntungan”, Ling memegang sungut Cri-Kee dengan lembut dan menaruhnya di daun pohon jeruk di sebelahnya.

 

“Ngomong-ngomong, Shang mana ya?”, Mulan merapikan rambutnya, dan merasa kurang nyaman dengan pakaian yang sedang dikenakan.

“Sepertinya sedang rapat koordinasi dengan Kaisar Morita”, Ling mengintip ke ruangan di sebelahnya, dengan posturnya yang tinggi tidaklah sulit melihat keadaan di dalam.

“Yah, sepertinya sedang rapat”, Ling meyakinkan apa yang dilihatnya.

“Kalian, tidak masuk ke dalam?”, Mulan mulai resah, pasti akan ada perang lagi, bukan dengan bangsa Hun, sepertinya bangsa Kai yang sudah mulai mengusik ketenangan negeri ini.

Jangan sampai terjadi seperti peperangan kemarin..’, batin Mulan dan berdoa kepada leluhur agar tidak terjadi apa-apa.

***

“Dimana Shang?”, nenek Fa tiba-tiba datang sambil membawakan rangkaian bunga yang penuh.

“Nek, itu untuk siapa? Untuk Mulan?”, Mulan mencoba merebut bunga tersebut namun nenek Fa lebih cekatan, “Hei, ini untuk suamimu! Shang? Mana Shang?”, Nenek Fa celingukan mencari Shang.

Mulan memutar matanya, “Nenek, bunga itu harusnya untuk cucunya, bukan untuk suami cucunya. Wow.. wangi sekaliiii”, Mulan menunduk mengendus bunga-bunga tersebut.

“Ini untuk Shang, yang berani menyelamatkan rakyat China, kalau dia kembali, tolong kasih tau Nenek, bunga ini akan Nenek simpan dahulu”. Nenek Fa berlalu ke dalam.

“Apakah dia tahu kalau aku yang mendapatkan pujian lebih daripada suamiku sendiri oleh Kaisar Morita?”, Mulan bertanya kepada dua sahabatnya yang hanya dijawab dengan angkatan pundak mereka.

***

Kapten Li Shang keluar dari ruangannya bersama dengan kapten Morita. Mukanya menahan emosi yang sebenarnya mudah dikeluarkan kalau di depannya tidak ada sang Kaisar. Kaisar Morita, menjaga kewibawaannya, berdiri tegak menatap Kapten paling pemberani yang pernah ia temui, namun sorot matanya begitu khawatir.

Mulan, entah sudah berapa lama mengenal Shang bahkan sampai sudah menjadi suaminya, menatapnya menimbulkan desir-desir aneh di dalam dadanya. Mulan mendatangi suaminya dan tersenyum sambil menggandeng tangannya, “Semua baik-baik saja, Shang?”

Shang tersenyum, “aku tidak bisa berbohong kalau dengan istriku sendiri ternyata”. Pipi Mulan menghangat, bersemu merah mendapatkan pujian sederhana dari suaminya sendiri.

“Yah.. serius, ada apa?”

Shang menghembuskan nafas panjang, “Sepertinya akan ada perang lagi dengan bangsa Kai”

“Oh, tidak. Jangan lagi..”, Mulan menyesal kenapa ketakutannya menjadi kenyataan. Mulan menguatkan dirinya, begitu lekat dalam ingatannya penyamaran bangsa Hun dibalik perayaan kemenangan bangsa Han saat itu. Ia begitu kenal dengan karakter bangsa Kai yang cerdas tapi kejam.

***

Mulan kembali ke kamar setelah berbicara dengan kedua sahabatnya. Mulan melihat kuil, Mushu belum bisa diganggu hingga  matahari terbenam nanti, tugasnya melayani leluhur masih harus diselesaikan sampai petang nanti.

“Aku akan ikut”,

Shang membalikkan badan, “Mulan.. jangan membuat aku memaksa”

“Aku akan ikut, dibalik pasukanmu, aku ada disana, atau di depan kudamu untuk menjadi tamengmu, aku siap”

“Kamu membuat semuanya menjadi sulit, Mulan”

Mulan tahu, Shang begitu khawatir, khawatir karena ia sebagai perempuan, dan juga sebagai istrinya.

“Shang, percaya padaku, aku harus ada disana”

“Kenapa? Karena kecerdasanmu mengalahkan fisikmu? Ini akan berbeda”

Mulan menatap Shang tajam.

“Ini akan sama. Perang akan selalu sama!!”, Mulan tidak bisa diam saja menunggu suaminya berperang sedangkan ia hanya di rumah, menunggu kabar.

Shang terdiam, banyak pertimbangan memenuhi benaknya saat itu.

“Jangan hanya khawatirkan aku, Shang. Khawatirkan rakyat China., Aku, kamu, Ling, Yao, semuanya, untuk rakyat China. Kita berjuang bersama, lagi”

Tidak ada yang bisa dikatakan oleh Shang, penolakan darinya akan membuat Mulan semakin maju. Shang menyiapkan posisi untuk Mulan pada pion strateginya.

Gubuk Nenek Retha

Gubuk Nenek Retha

Tidak ada bisa yang menandingi kekuatan penyembuhan dari Nenek Retha. Keahliannya terkenal di pelosok negeri Kayalna ini. Hampir semua penyakit Nenek Retha bisa sembuhkan, dan dapat disembuhkan hanya dalam waktu yang tidak lama. Nenek Retha tidak memungut satu koin emas pun untuk pasiennya, dari budak sampai staf Kerajaan tidak dipungut biaya apapun oleh Nenek Retha, kadang beberapa ajudan Raja memaksa menaruh beberapa pundi emas ke dalam jubah sang Nenek yang selalu tersampir di pintu depan gubuknya karena sang Nenek selalu menolak pemberian pasien-pasiennya.

 

Namun tetap ada beberapa orang yang tidak suka dengan Nenek Retha. Beberapa dari mereka bernama Sam, Atha, Deli. Mereka curiga kalau sang Nenek memakai sihirnya, apalagi tempat tinggal Nenek Retha sangat terpencil dan siapapun pasien yang masuk kesana, sang asisten yang merupakan seekor lemur yang bisa berbicara langsung menutup tirainya.

 

“Aku yakin Nenek Retha menggunakan sihir”, Atha membuka percakapan, di pinggir hutan, mereka bertiga menjejakkan kaki dari tunggangan. Mereka menyusuri dedaunan kering dan memegang kuda mereka. Mereka bertiga bergerak menuju ke arah Selatan, menyusuri jalan dengan pohon rindang, menuju gubuk sang Nenek. Ilmu sihir sedang berkembang di negeri itu, beberapa ahli penyembuhan bertebaran di negeri itu tetapi  mereka meminta upeti besar bahkan tumbal untuk jaminan,

 “Kita harus membuktikannya”, Deli bersender ke arah pohon terdekat, badannya lelah dengan perjalanan yang panjang. Belum sampai bersandar, kaki Atha dipatuk ular yang sangat berbisa, ekornya berderik kencang mencium bahaya manusia di depannya.

“Aww!! Tolooong!!!”

Atha dan Sam panik, keduanya tidak tahu harus melakukan apa.

“Kita bawa ke Nenek Retha!!”, mereka berdua membopong Deli dengan kudanya dan menyusuri hutan lebat tersebut.

***

Tok tok tok tok tok.

Mereka berdua mengetuk pintu gubuk sang Nenek dengan panik.

“Neeek.. Tolong kami, Neeek!!”

Nenek Retha membukakan pintunya dan tersenyum, “tenang, mari kita bawa dia ke dalam”

Deli berpeluh dengan derasnya, badannya panas-dingin, beberapa kali ia mengigau.

“Kalian menunggu di luar dulu, ya?”

Sam dan Atha berpandangan, dalam hati mereka masih ingin membuktikan keraguan mereka atas ilmu Nenek Retha, mereka lalu menggeleng.

“Tidak mau, kami ingin disini”

Sang Nenek, menghela nafas, “Baiklah, kalian menunggu di dalam”.

Sang lemur menutup tirai dan Nenek Retha mulai menyembuhkan Deli yang sudah hampir kehilangan kesadaran.

Apa yang terjadi di dalam sana sungguh mengejutkan mereka berdua.

***

Deli masih merebahkan diri, namun wajahnya sudah memerah segar. Bisa pada kakinya sudah dikeluarkan semua, dan racun yang mengalir ke pembuluh darahnya sudah dihentikan,

Sam dan Atha terdiam. Ia melihat sendiri cara sang Nenek yang menyembuhkan, Tidak ada apa-apa, tidak ada sihir.

Sang Nenek sangat cekatan mengambil dedaunan dan akar-akaran obat dan membebat kaki Deli. Sambil menyembuhkan sang Nenek membisiki kata-kata yang menyemangati Deli agar tidak putus asa dan yakin bisanya akan keluar.

“Bisa ini akan keluar dari tubuh kamu, Deli”

“Deli, yang kuat, jangan biarkan bisa ini ikut mengalir bersama darahmu”

Dan beberapa kata-kata lain, dengan suara lirih sang Nenek.

Sam mendekat ke Atha, rasa bersalah menjalar ke tubuhnya. “Sugesti, Tha. Semua yang diberikan sang Nenek selain obat adalah sugesti, tidak ada sihir..”, bisik Sam.

“Dengan ditutupnya tirai Nenek bisa lebih tenang menghadapi pasien, karena tidak ada yang menyaksikan”, jawab sang Nenek dengan senyumnya saat ditanya kenapa harus ditutup tirainya.

Atha menganggukkan kepalanya, merasakan sesal yang sama. Sambil membopong Deli yang masih lemas, Atha meletakkan beberapa keping emas ke dalam jubah sang Nenek.

 

 

 

Cinta sang Putri

Cinta sang Putri

Siapa yang tidak kenal dengan Putri Axella? Putri satu-satunya dan kesayangan Raja Avraham dan Ratu Cellia sangat dicintai rakyatnya. Keceriaan dan keramahannya terkenal seantero negeri.

***

“Ulang tahun yang ke-20, apa yang kamu inginkan, Putri? Seorang Pangerankah?”, Putri Lila yang sedang bertandang ke istananya sibuk menyisir rambut panjangnya. Jika Putri Lila dan Putri Axella bersama, tidak ada seorang pelayan pun yang boleh masuk. Hari itu adalah hari khusus untuk mereka bersenang-senang.

“Hem.. apa ya?”, Putri Axella asik bermain dengan kucing liar yang  memanjat masuk ke kamarnya

“Pangeran? Ayolah.. sudah waktunya kamu meminta doa itu”

“Oke, baiklah. Seorang Pangeran. Puas?”

“Haha.. seperti apa?”

“hmmm…”, dahi Putri Axella mengernyit seperti berpikir keras, Putri Axella sadar, selama ini ia belum memikirkan tentang Pangeran siapa yang akan meminangnya nanti. Dirinya masih mau bermain, sekolah, berburu, jalan-jalan, dandan dengan sahabatnya Putri Lila. Berbeda dengan Putri Lila yang sebentar lagi akan dipinang.

“Aku berharap kamu bisa lekas jatuh cinta dengan seseorang”, Putri Lila kembali menyisir rambut hitam panjangnya.

***

“Kamu yakin sama pilihanmu?”, Putri Lila menatap sahabatnya dengan pandangan yang tidak yakin.

“Yakin, aku mencintai dia, sangat”

“Tapi..”

“Heuh…”, Putri Axella menghela nafas panjang. Musim gugur sudah mulai, daun-daun mulai berjatuhan dan menimbulkan gemeresik dan angin yang cukup membuat mereka berdua menggigil.

Putri Axella melihat beberapa penjaganya mencuri dengar, dibalik posisi tegapnya mereka tahu besar apa yang sedang terjadi. Dia acuh tak acuh, mereka akan tahu, semua rakyatnya tahu, ia mencintai lelaki yang salah.

“Aku hanya..”, kata-kata Putri Lila urung dilanjutkan, ia sangat tidak tega menyinggung sedikit pun dari perasaan sahabatnya.

Putri Axella termenung, gaun panjangnya ia singkap sampai dengkul dan mengesampingkan adat keputriannya sebentar, ia menyilangkan dengkulnya dan termangu. Hatinya sungguh gulana.

***

Pangeran Baram, adalah putra dari Raja Benoni yang kejam dari negeri tetangga. Sayangnya, karena suatu hal yang sudah terjadi beberapa ratus tahun yang lalu, kedua negeri tersebut bersitegang, sampai saat ini mereka tidak pernah mengadakan hubungan bilateral, bahkan masing-masing rakyatnya tidak diperbolehkan bertandang ke negeri tersebut, Jika satu rakyat terlihat datang ke negeri itu maupun sebaliknya, tidak akan ada yang selamat. Permusuhan itu seakan tidak pernah ada akhirnya.

 

Pangeran Baram bertemu dengan sang Putri secara tidak sengaja, saat itu Pangeran Baram menyamar menjadi rakyat biasa untuk melihat kelemahan geografis dari negeri Atha, negeri yang ditinggali oleh Putri Axella. Pangeran Baram dan pasukan berniat menjajah negeri kecil tersebut. Tetapi saat penyelidikan ia bertemu dengan Putri Axella yang sedang berburu sendirian dan sang Putri jauh dari pengawasan Raja dan penjaganya. Dengan waktu yang sempit mereka berkenalan dan saat itu mereka sadar dengan perasaan mereka.

***

Surat dari negeri seberang telah diterima oleh Raja. Surat permohonan untuk meminang sang Putri. Raja Avraham resah, surat itu bisa menjadi ancaman dan perang kalau ditolak, tapi bagaimanapun jawaban ada di tangan sang Putri.

Butuh waktu satu bulan untuk memikirkan jawaban tersebut. Dalam hati yang paling dalam ia sangat mencintai Pangeran Baram, walau ia tahu Pangeran bisa berpotensi sejahat Ayahnya. Tapi ia berusaha berpikir positif mungkin permusuhan yang sudah lama terjalin akan menjadi perdamaian jika ia menikah dengan Pangeran Baram. Tapi di sisi lain keamanan rakyatnya pun akan dikorbankan.

 

“Kami siap berperang untuk Putri kalau penolakan Putri akan berujung peperangan”,  ujar salah satu rakyatnya ke Putri Axella saat itu.

 

Hari ini adalah tenggat dari surat tersebut, kertas perkamen sedari tadi digenggam erat oleh sang Putri, dan jawabannya harus ia ungkapkan di tempat ini, di atas balkon ini, di depan rakyatnya.

 

Sang Putri menahan nafas panjang, dihadapannya sudah ada ribuan rakyat yang menunggu jawabannya.

 

“Saya.. tidak akan menikah dengan Pangeran Baram, rakyatku!!”, teriak sang Putri lantang. Dan jawabannya disambut dengan tepukan dan sorakan riuh untuk rakyatnya.

 

‘Karena kalian adalah harta terbesar dalam hidupku, rakyatku..’, sang Putri menitikkan airmata, tinggal ia yang harus belajar melupakan Pangeran Baram, mengubur semua mimpi  bersamanya.

 

 

#MagicalMay Day 10

#MagicalMay Day 10

Ah, it’s not too late to start I guess, since I’ve read someone’s tweet about Magical May Project, and someone’s blog just now. well it’s just an initiative project I thought, to be more grateful for what you have done for someone or what you have got from someone.

Well, so far, here is my magical May of Thursday :

 

1. How can I explain for someone that I hope so much to God please let me see him today. I took my positive resonance to say ‘yes I will meet him eventhough just for a minute’, and thank you for the early Dzuhur, I met him. Engh.. is it okay if I could do praying sooner than yesterday? Because I want to chase his shadows? Haha.. Tori Udon! Walla.. I saw you, finally!!

 

2. You have no idea to describe what are you  feeling when your boss give you a nice compliment for something that you might think simple. Yeah, I felt it, today. And so grateful to read his email. Say thank you for what I’ve done this afternoon, and got simple reply

Dear Farah. You have captured the discussion very well and I am attaching the MoM with my minor revision

Subanallah. Really, I’m so impressed for what his did to me. He is so damn down to earth as an CEO. And he is one of my inspiration I decided to join this Magical May Project.

 

That’s all? No.. I will update it very soon. It’s still 5 p.m, still 7 hours left. Would you mind to join with us? To grateful for simple think that we never realize it before?

Try it, I’m loving it :)

                         I AM GRATEFUL TO ALLAH SWT

 

 

 

Kepak Midori

Kepak Midori

Kepak sayap Midori si burung elang begitu kencang, Raja Yoshi terdiam, pandangannya menantang terik matahari pagi itu. Beberapa helai daun berwarna kuning keemasan, merah marun, dan hijau mulai menghujaninya.

“Hentikan, Midori!! Hentikan!!”

Beberapa ajudan Raja mulai membantu Raja membersihkan jubahnya dari daun-daun tersebut. Midori tidak berhenti terbang berputar-putar, sepertinya sang elang merasa begitu senang. Udara cerah, mangsa yang dapat ditemui dengan mudahnya dari ketinggian, hal ini membuat Midori senang.

 

“Mari kita lanjutkan perjalanan”, ujar sang Raja. Beberapa ajudan berusaha mengimbangi langkah sang Raja, tapi Raja mengangkat tangannya, memberikan tanda larangan. Mereka pun mundur dengan hormat.

 

“Sudah lama saya tidak berjalan seperti ini”, Raja Yoshi mulai berjalan sambil bersenandung, kepakan sayap Midori terdengar jelas, bahkan bila para ajudan memejamkan matanya, mereka akan selamat sampai tujuan karena bantuan dari Midori.

 

***

 

 

Blek!!

 

Tiba-tiba sang Raja tersandung, semalam ada pohon jati yang baru tumbang karena usianya sudah ribuan tahun, pohon tersebut sangat jauh, tapi akarnya yang panjang mencuat dan menghalangi jalur perjalanan mereka.

 

Para ajudan panik dan membantu Raja Yoshi berdiri.

“Maafkan kami, Raja. Maafkan kami”

Raja Yoshi hanya tersenyum, “bukan salah kalian, Midori juga tidak bisa memberi tahu kalau ada halangan disini, tidak apa-apa”. Sang Raja yang ramah tersenyum dan membersihkan jubahnya.

Kepak sayap lebar Midori terdengar pelan, ia mendatangi Tuannya. Elang itu seperti berubah menjadi burung merpati, cakarnya yang terbiasa mengoyak daging mangsa menjadi lembut bertengger di jubah tebal sang Raja. Midori terdiam dan matanya kuyu, seakan merasa bersalah hampir mencelakakan Tuannya.

“Tidak apa-apa, Midori, tidak apa-apa. Mari lanjutkan perjalanan”, Raja Yoshi mengelus kepala Midori lembut, dan dia mulai mengepakkan sayapnya dengan kencang, menunjukkan jalan ke Taman Shiro yang indah, membantu Tuannya yang terlahir buta.

 

Raja Yoshi menghirup nafas panjang, dalam hati ia bersyukur memiliki Midori, yang tumbuh besar bersamanya dan membantu Raja Yoshi menuntun jalan menggunakan kepakannya yang lebar.

“Kamu sahabat sejati dan juga pahlawan, Midori”

 

Jagoan

Jagoan
Terbiasa oleh apapun, tapi tidak untuk sakit hati
Ini terakhir

“Kenapa dipanggilnya Jagoan sih?”. Gue juga bingung, diam sebagai jawabannya, dan gue tau elo, ngga menuntut jawaban selanjutnya, bagi elo kalau seseorang ditanya tapi dia ngga tahu jawabannya, berarti orang itu ngga mikir sebelum bicara. Dalem, tapi balik lagi, gue cuma bisa diam. Yang gue tau dan gue mau, gue menyebut elo Jagoan. Selesai.

 

Itu 3 tahun yang lalu. Sekarang semuanya udah beda. Elo disini, depan gue persis, asik menyeruput segelas besar kopi hitam, dan gue ngga mau kalah, segelas kecil kopi hitam pahit di depan gelas besar lo, kontras. Hasil bergadang menonton Moto GP Qatar, dan tidak tidur lagi, kita memilih untuk menyeruput kopi  dulu  daripada mengisi perut kita dengan sarapan.

“Kerjaan lo gimana?”, elo membuka percakapan pagi itu, sepertinya elo tahu gue bingung mencari bahan, sehingga gue lebih sibuk melihat taman fakultas yang setiap daunnya basah oleh embun pagi tadi. Pagi ini begitu dingin, tapi gue merasa cukup hangat oleh kopi ini, dan elo disini.

“Baik. Lo?”

“Kerja aja belum”

“Kan ada lanjutannya”

“Hm?”

“Lo kapan lulus? Hahah”

Elo cuma tersenyum kecut, dan gue terlalu ekstrovert sehingga ngga bisa nahan ketawa yang terlalu terbahak-bahak. Iyalah, ngga bosen gue nanya itu, udah 6 tahun lo disini belum bisa diraih gelar sarjana lo. Dan pasti bukan cuma gue doang yang akan nanya ‘kapan?’, mungkin orangtua lo udah pasrah.

 

Sudah tahun keempat, tapi ngga ada yang pernah berubah, iya, perasaan gue. Waktu gue masih jadi Maba dan elo sok galak dengan jadi Kedisiplinan, gue udah menyebut elo Jagoan. Dasar agresif, gue pernah menyatakan perasaan sama elo, “lagi males pacaran gue”, itu cara lo menolak gue, tapi anehnya ngga lantas kita menjadi jauh atau gue yang malu ditolak senior sendiri lalu memilih untuk menghindar. Kita malah tetap dekat. Berteman sama geng elo mempunyai keuntungan berlimpah, salah satunya punya banyak warisan hand out dan buku-buku kuliah yang gue ngga perlu mahal-mahal beli. Toh semua buku-buku itu kayak belum pernah dibuka, mulus. Dan elo memang pegang janji lo, selama 4 tahun gue suka sama elo, sampe gue udah lulus gini, ngga pernah kedengaran lo pacaran, dekat sama cewe lain sering gue denger, tapi ngga pernah sampai ada pengesahan status. Yah, mungkin itu yang bikin gue nunggu elo, selalu nunggu elo.

“Terus ngga dijawab pertanyaan gue”

“Lah, kan udah tadi, yang kerjaan kan?”

“Oh iya. Gue mau mesen bubur dulu ya, nitip?”

“Ngga”

“Diet?”

“Kagak, abis kopi kedua aja”

Dan elo pergi ke kantin ujung, memesan bubur, tapi lo akan kembali kesini, ke meja ini. Dan kembali memulai percakapan singkat-padat-ngga-jelas lagi, yang selalu gue tunggu, anehnya.

 ***

Banyak yang bilang gue sama elo itu harusnya disahkan menjadi pasangan, cocok. Mungkin karena elo dan gue sudah bertransformasi cukup banyak selama beberapa tahun ini. Di depan gue tadi adalah seorang lelaki yang berubah cukup signifikan dari segi fisik. Dulu susunan badannya mungkin hanya terdiri dari gugus alkana rantai panjang karbon dengan bermacam-macam jenis asam lemak. Gemuk tapi tinggi. Sampai akhirnya tahun ketiga, saat ada UKM Muay Thai di kampus ini, lo pun ikut dan yah beginilah elo sekarang, kering badan lo istilahnya, hampir ngga ada lemak. Kompetitor gue bertambah, Maba lintas fakultas mulai melirik elo dan langkahnya lebih agresif dari gue. Gue pernah mikir ‘ Gue aja None Kepulauan Seribu ngga bisa ngalahin hati dia, gimana elo pada, Maba baru lepas dari seragam SMA?’, dan sialnya, karena gue harus lulus cepat, gue sekarang menjadi pihak eksternal yang masih menunggu elo.

“Lo deket ya Ka sama Hira?”, tanya seorang yunior, Maba lebih tepatnya, saat gue datang ke reuni akbar departemen gue.

“Biasa aja”, kadang gue ngerasa meng- copy paste personality lo saat berhadapan dengan fans-fans elo.

“Gelendotan sama dia enak kali ya, Ka? Badannya itu.. bagus”, si yunior mulai mengkhayal. Bahkan gue selama menunggu ngga pernah bisa ngebayangin bisa gandengan tangan sama elo, ini Maba bener-bener deh udah kemana mana khayalannya.

“Hush!!”, gue cuma bisa menghapus khayalannya yang sepertinya menggantung di atas kepalanya.

***

 

“Bengong aja”, ngga sadar elo udah dateng di depan gue, bahkan sudah menyuap beberapa sendok bubur.

“Lah udah mau abis aja”

“Lo kelamaan bengongnya, angker loh disini. Untung ngga kesambet”

“Kan ada elo, anak ustad, bisa baca-bacain gue”

“Kalo elo lagi kesurupan terus teriak-teriak terus buka baju, ya gue nunggu elo buka baju dulu lah. Pemandangan”

Satu pukulan kencang di badan keras lo, ngomongnya sembarangan. “Ngga ngefek palingan pukulan gue”

“Iya, hehe..”

Empat tahun lalu waktu gue mukul elo, gue kayak mukul bantal air, sekarang gue kayak ninju beton. Sakit.

***

“Gue mau lulus tahun ini”

“Wow… serius? Beneran? Ngga akan ada tahun ketujuh?”

Drop out oi gue!”

“Amiiin..”, gue ngga bisa nahan lapar, asik menghabiskan sepiring penuh nasi goreng.

“Skripsi gue udah selesai, rampung, sukses”

“Udah sidang?”

“Lusa”

“Hem..”

“Baguslah, orangtua lo pasti seneng”

“Semuanya seneng, pembimbing gue apalagi”

Tertawa. Tetapi kontras. Gue dengan tertawa keras dan elo hanya tertawa tanpa suara, dan singkat.

Dan gue sibuk kembali dengan nasi goreng gue. Sembari menyusur angan lagi tentang sosok yang ada di depan gue ini. Tanpa bermaksud narsis gue juga bingung kenapa empat tahun gue males punya pacar, gue mantan None, gue cukup mudah bikin kaum Adam tertarik dengan gue, tapi sepertinya ya gitu deh, selama Jagoan belum punya pacar, gue sepertinya masih merasa aman sendiri.

“Tiga puluh tiga kali kunyahan ya kayaknya, lama banget”, sindir elo, pasti melihat cara makan gue yang lama.

“Ini namanya table manner

“Terus itu kaki kenapa diangkat ke bangku?”

Sial, jurus ngeles gue gagal.

***

“Lo jadi pendamping wisuda gue dong”

Deg, deg deg deg deg deg. Itu permintaan lo yang sangat mengejutkan, sesaat gue salah tingkah, tapi gue bisa mengontrol perasaan yang kepalang menggebu ini.

“Hem.. kapan?”, jual mahal.

“Agustus”

Sesaat gue mikir, sepertinya ada hal yang udah mau gue tanya sebelum gue niat nanya ke elo kapan wisudanya.

“Apa?”, elo menambahkan, jelas ekspresi gue yang sedang berpikir ngga bisa diboongin.

“Gue bingung aja”

“Kenapa?”

“Gue ngenalin ke orangtua lo apa?”

“Ya bilang aja lo pacar gue”

Entah udah ada berapa deg deg deg pagi itu. Masih terlalu pagi untuk memberikan efek beruntun seperti ini, Jagoan.

“Boong deh, bilang aja temen”

Jleb. Bagus yah, elo naikin dan jatohin gue di waktu yang sama.

“Mau ngga?”

“Auk deh”

“Dih ngambeg gitu”

Gue liat matanya yang dalam itu, iya, tatapan matanya elo selalu ngga bisa diterjemahkan, dalam tapi.. dingin. Dan karena itulah gue selalu ngga berani menatap lama mata elo, ngga tau kenapa.

“Udah mau aja ya”

Gue diem aja, pendamping wisuda tapi statusnya temen? Jelas mending elo sendirian tanpa pendamping wisuda terus gue ujug-ujug dateng bawa mawar, selesai. Daripada nemenin elo seharian tapi kalau ditanya sama orang itu siapanya elo cuma jawab ‘temen’.

“Ya udah deh, adek, ntar gue kenalin jadi adek. Serius”

Gue kepalang kesal, gue ninggalin meja dan meninggalkan sang Jagoan. Sepertinya dia melihat gue dari kacamata lain, sehingga ngga bisa sedikit pun hatinya terbuka buat gue, yang udah menunggu sekian lama. Dan permintaan terbesarnya pagi tadi adalah luka terdalam yang sukses ditorehkan ke gue tanpa elo sadar. Semua selesai, Jagoan.

 

 

Aku Masih Ingin..

Aku Masih Ingin..

Selamat  Hari Pendidikan Nasional, semoga tidak lagi ada Anita lain yang mengalami hal seperti ini, terbentur sesuatu yang membuat mimpinya hancur

 

“ Kamu bisa antar ini ke rumah Bu Haji, Nak?”

“ Bisa, Bu? Jam berapa?”, Anita bersiap-siap, membagi-bagi dadar gulung dan lemper ayam yang harus diantarkan ke beberapa tempat sebentar lagi.

“Ini Ibu belum selesai bungkusinnya. Kamu bisa bantuin?”

“Bisa, Bu”, Anita bergegas ke dekat Ibu, membantu membungkus plastik lemper dan dadar gulung yang jumlahnya ratusan. Anita merasa kasihan terhadap Ibu, sepertinya Ibu sudah terbangun dari jam 2 pagi, dan niat Anita yang selalu ingin ikut terbangun agar bisa membantu Ibunya selalu galah. Rasa lelahnya mengalahkan niatnya untuk terjaga. Biasanya Anita sudah terbangun jam 5 pagi, dan mulai membantu Ibu di proses akhir, membungkus lemper dan dadar gulung dan mengantarkannya ke beberapa tempat.

Lantai tanah merah ini terasa begitu dingin, Anita menggigil, musim kemarau malah  menyebabkan suhu pagi itu begitu menusuk tulang. Enggan rasanya harus mengantarkan sambil jalan kaki. Anita melihat ke lemari pakaian dengan pakaian yang sedikit. Jaket tebal milik almarhum Bapak sudah mulai bolong-bolong di beberapa bagian, sehingga udara dingin bisa menyusup yang menyebabkan badan Anita yang kecil dan kurus semakin menggigil. Tapi Anita harus membantu Ibunya, setidaknya hari ini Anita harus makan nasi.

“ Kamu nanti ngga usah anter ke Mpok Ala ya”, Ibu mulai berpeluh, melihat ia begitu lelah, Anita ingin sekali pergi dari sini, mengantarkan semuanya dan membujuk agar selagi ia mengantar ke beberapa tempat, Ibu bisa istirahat dulu. Tapi Ibu pasti menolak, karena harus mempersiapkan makan siang untuk warung kecilnya. Anita bahkan bisa menerka bahwa dalam sehari Ibu hanya tertidur sekitar 3 jam.

“Kenapa, Bu?”

“Warungnya lagi tutup, anaknya sunatan. Nanti kita datang kesana kok”

“Lumayan ya, Bu, makan gratis, hehe..”, Ibu ikut tersenyum

***

Anita bersiap-siap mengantarkan kue basah tersebut. Anita melihat kalender yang sudah dipajang disana tiga tahun yang lalu tapi tetap dipasangnya. Bagi Anita toh hari akan sama, Senin sampai Minggu, sehingga ia tetap memasangnya.

Rabu’, gumam Anita.

Anita mengingat rute antaran makanannya pagi ini, Bu Haji, SD 4, Bu Nana, SD 8.

Anita kembali resah, selalu ada rasa tidak nyaman dan gelisah ketika melewati tempat itu. Selalu ingin menangis, tapi Anita berhasil menahannya dan menyembunyikan di depan Ibu, Cukup beban menjadi kepala keluarga yang ditanggung Ibu, tidak perlu air mata Anita.

Sampai ia melihat sepasang sepatu yang pernah ia kenakan tiga tahun yang lalu. Anita tidak sanggup lagi, air matanya berurai bahkan sebelum ia mengucapkan salam sebelum pergi.

Ibu memergoki Anita di luar sana, dan berjongkok di sebelah Anita.

“Naak.. tabungan Ibu insya ALLAH cukup, kamu bisa mulai tahun depan. Kita berdoa aja ya,Nak”

Anita menghapus air matanya, tapi cebikannya semakin keras karena rasa tangis yang tertahan.

Anita masih mau kembali ke sekolah lagi, Ibu. Anita kangen belajar, Ibu selalu menjanjikan itu tahun sebelumnya ‘, Anita hanya protes dari dalam hati, kesedihannya seperti bola salju, yang semakin membesar setiap harinya.

‘ Maafkan Ibu, Nak. Biaya sekolah semakin mahal’,  batin Ibu, sambil mencium kepala anak kesayangannya.

Puisi untuk sang Penyendiri

Puisi untuk sang Penyendiri

Hai sang Penyendiri.

Ada satu kata untuk mengakhirinya, saat aku digoda dengan perasaan yang sama.

Kamu, menyelusup diam-diam dalam lelapku, mencumbu pelan.

 

Ragu? Tidak.

Aku ingin lagi dan tidak ingin mengakhirinya. Kamu, adiktif.

Jangan ragu, biar semua berulang. Goda aku dalam kesendirianmu di atas sana.

Biar, aku tidak akan mengeluh satu kata pun asalkan itu kamu.

 

Yang tidak pernah berhenti beraksi. Memberikan relung rindu atas terangmu.

Aku tidak perlu sampai hari berusaha melihat ke arahmu jika aku mampu. Bukan kekuatanmu yang membuatku kagum, kau malah akan melukai penglihatanku.

Cukup aku menorehkan sedikit garis di ujung mataku, lalu aku sadar ada kamu disana.

Kamu di Timur sana.

 

Biar, biar kamu selalu membuat segalanya menjadi terlalu memaksa.

Memaksa menyibakkan tirai dan menembus ke kelambuku agar aku terbangun.

Memaksa mataku membuka mata lalu melihat ke arah kamu.

Iya, kamu. Yang sekejap saja menyiratkan syukur ke sang Khalik karena aku masih bisa menemui kamu.

 

Kamu, sang Matahari, sendiri.

Sendiri namun tegap berarti.

Malam sudah berganti, padahal mereka beramai-ramai.

Kau hanya satu, namun sinarmu memukau.

Selalu.